Banyak yang berubah dari Jogja seiring berjalannya waktu. Salah satu perubahan yang saya rasakan adalah suasana lalu lintasnya. Berbeda sekali dengan jaman saya sekolah dulu di mana masih banyak bus kota dan angkutan pedesaan yang beroperasi. Sekarang transportasi di Jogja didominasi oleh kendaraan pribadi dan ojek online.
Salah satu jenis angkutan yang dulu sering saya pakai dulu adalah mobil Colt. Sebelum menghilang dan digantikan bus kota saya masih mendapati angkutan ini selama beberapa waktu.
Mobil angkutan ini bentuknya mirip-mirip dengan oplet nya si Dul Anak Sekolahan. Pintunya ada di sisi belakang sedangkan tempat duduknya berhadapan di sisi kiri dan kanan. Colt ini beroperasi dari pasar kecamatan ke wilayah perkotaan. Jadi penumpangnya bisa campur-campur antara para pelajar, mahasiswa, pedagang pasar ( plus barang dagangannya ) dan yang lainnya.
![]() |
sumber gambar : www.awansan.com |
Selama beberapa waktu Colt ini masih sempat berdampingan dengan bus kota hingga kemudian benar-benar menghilang.
Lain mobil Colt lain pula bus kota. Para pelajar di Jogja pada sekitar tahun 90-an atau awal tahun 2000 pasti tidak asing dengan bus-bus kota atau bus kampus. Disebut bus kampus karena bus ini rutenya melewati kampus UGM. Biasanya para pelajar naik bus ini karena belum cukup umur untuk mengendarai sepeda motor sendiri. Meski ada juga yang hingga kuliah naik angkutan umum. Seperti saya, he yang sampai awal kerja masih naik bus sebelum akhirnya beli motor juga.
Armada bus kota ini jumlahnya banyak dan beroperasi di jalur-jalur yang telah ditentukan. Ada belasan nomer jalur yang ada waktu itu. Saya sendiri paling sering naik jalur 15 dan jalur 4. Bus-bus itu adalah bus yang melewati sekolah SMA saya, rumah sakit tempat saya bekerja, Malioboro dan Pasar Beringharjo. Kelihatan kan saya mainnya ke mana saja, he.
Nomer jalur dan rute bus ini ditempel di bagian depan bus. Jadi bisa terlihat dari jauh. Meski begitu untuk penumpang yang masih baru lebih mudah nanya sama kernetnya apakah tujuannya sesuai dengan rute busnya, supaya tidak nyasar.
Bus kota atau bus kampus ini ada yang dioperasikan oleh perusahaan milik negara ( baca : DAMRI ) dan ada yang dioperasikan oleh swasta. Bus yang dikelola oleh perusahaan milik negara ini terkesan lebih baik pelayanannya. Busnya lebih bersih, berkendara santun di jalan raya. Kalaupun berkecepatan tinggi masih lah diterima akal sehat. Selain itu sopir dan kernet memakai seragam, jadi kita yakin kalau mereka memang karyawan resmi. Dan yang paling penting bus tetap berjalan sesuai rute meski sedang sepi penumpang. Jadi tidak ada ceritanya penumpang diturunkan di tengah rute atau dioper ke bus yang di belakangnya karena dia mau putar balik.
Bus DAMRI ini menjadi favoritnya masyarakat meski dalam kenyataan kadang kita tidak bisa selalu memilih. Mana yang duluan datang ya itu yang kita naiki agar segera sampai tujuan.
Bisa dibilang tarif bus-bus kampus ini pro pelajar. Tarif untuk pelajar lebih murah dari penumpang umum. Misal pelajar Rp.150 untuk umum Rp.300. Jadi kalau sudah pakai seragam pasti kita ditarif murah baik dekat maupun jauh. Nah, yang agak bingung kalau hari libur tapi kita ada acara dan perginya naik bus. Mau bayar umum rasanya ogah. Mau bayar tarif pelajar eh kitanya tidak pakai seragam. Bisa-bisa dikomplain sama kernetnya, "Tanggal merah masuk juga tho Mbak?" Jadi gimana gitu, kan.
Rute yang biasa saya lewati kalau naik bus jalur 15 terbilang cukup ramai. Pada jam-jam sibuk, seperti pulang sekolah bus-bus ini akan lebih ramai lagi. Sering tak kebagian tempat duduk dari naik sampai turun. Dalam suasana seperti ini biasanya kawanan copet beraksi.
Awalnya saya juga tak menyangka bahwa di jalur bus ini ada copet. Lebih khususnya di Jogja, saya pikir Jogja ku ini aman banget gitu. Setelah melihat sendiri aksi copet tersebut saya baru sadar bahwa copet itu ada juga di sini.
Tapi duduk dekat copet dan diajak ngomong sama copet itu deg-degannya nggak seberapa dibandingkan saat bus yang saya tumpangi menerjang perlintasan rel kereta api. Ini adalah kejadian yang paling mencekam selama saya naik angkutan umum.
Saat itu bus yang saya tumpangi melewati perlintasan kereta api. Sinyal peringatan sudah berbunyi dan palang pintu perlintasan sudah turun. Tapi dengan nekat kernet bus membuka palang pintu perlintasan dan bus pun menyeberang rel kereta tersebut. Saya yang tidak menyangka akan kejadian seperti itu cuma bisa panik ingin turun. Tapi tak bisa dan akhirnya cuma jengkel dan marah pada bus ini. Dan meski tidak terjadi apa-apa, saya jadi males naik bus jalur tersebut selama beberapa waktu.
Selain bus-bus yang beroperasi di wilayah kota, semasa kuliah saya masih sempat mendapati bus angkutan umum yang menjangkau ke pedesaan. Meski frekuensinya mulai jarang, tapi pada jam-jam tertentu saja seperti jam berangkat sekolah atau pulang sekolah bus ini masih lewat. Lama-lama bus ini berhenti beroperasi. Mungkin karena penumpangnya semakin sedikit. Padahal angkutan ini sangat bermanfaat untuk penghubung dari daerah kabupaten ke pusat kota.
Itu sedikit cerita naik angkutan umum di Jogja beberapa waku lalu. Kini jaman sudah berganti. Belasan jalur bus yang dulu ada kini hanya tinggal beberapa saja. Saya sendiri kalau kemana-mana masih naik motor.
Memilih motor dibanding dengan angkutan umum karena lebih cepat dan efisien. Ada banyak alternatif jalan bila mana terjadi kemacetan. Dan pengalaman-pengalaman yang kurang mengenakkan naik bus umum di atas membuat saya enggan untuk naik angkutan umum lagi. Kalau bus nya seperti Trans Jogja mungkin masih bisa dipertimbangkan. Tapi sayangnya belum ada angkutan seperti bus Trans yang haltenya dekat dari rumah saya.
Semoga ke depannya ada angkutan umum yang nyaman dan menjangkau sampai ke wilayah desa. Saya yakin kalau ada transportasi umum yang nyaman, masyarakat akan tertarik untuk memakai transportasi umum lagi.
Nomer jalur dan rute bus ini ditempel di bagian depan bus. Jadi bisa terlihat dari jauh. Meski begitu untuk penumpang yang masih baru lebih mudah nanya sama kernetnya apakah tujuannya sesuai dengan rute busnya, supaya tidak nyasar.
Bus kota atau bus kampus ini ada yang dioperasikan oleh perusahaan milik negara ( baca : DAMRI ) dan ada yang dioperasikan oleh swasta. Bus yang dikelola oleh perusahaan milik negara ini terkesan lebih baik pelayanannya. Busnya lebih bersih, berkendara santun di jalan raya. Kalaupun berkecepatan tinggi masih lah diterima akal sehat. Selain itu sopir dan kernet memakai seragam, jadi kita yakin kalau mereka memang karyawan resmi. Dan yang paling penting bus tetap berjalan sesuai rute meski sedang sepi penumpang. Jadi tidak ada ceritanya penumpang diturunkan di tengah rute atau dioper ke bus yang di belakangnya karena dia mau putar balik.
Bus DAMRI ini menjadi favoritnya masyarakat meski dalam kenyataan kadang kita tidak bisa selalu memilih. Mana yang duluan datang ya itu yang kita naiki agar segera sampai tujuan.
Bisa dibilang tarif bus-bus kampus ini pro pelajar. Tarif untuk pelajar lebih murah dari penumpang umum. Misal pelajar Rp.150 untuk umum Rp.300. Jadi kalau sudah pakai seragam pasti kita ditarif murah baik dekat maupun jauh. Nah, yang agak bingung kalau hari libur tapi kita ada acara dan perginya naik bus. Mau bayar umum rasanya ogah. Mau bayar tarif pelajar eh kitanya tidak pakai seragam. Bisa-bisa dikomplain sama kernetnya, "Tanggal merah masuk juga tho Mbak?" Jadi gimana gitu, kan.
Rute yang biasa saya lewati kalau naik bus jalur 15 terbilang cukup ramai. Pada jam-jam sibuk, seperti pulang sekolah bus-bus ini akan lebih ramai lagi. Sering tak kebagian tempat duduk dari naik sampai turun. Dalam suasana seperti ini biasanya kawanan copet beraksi.
Awalnya saya juga tak menyangka bahwa di jalur bus ini ada copet. Lebih khususnya di Jogja, saya pikir Jogja ku ini aman banget gitu. Setelah melihat sendiri aksi copet tersebut saya baru sadar bahwa copet itu ada juga di sini.
Tapi duduk dekat copet dan diajak ngomong sama copet itu deg-degannya nggak seberapa dibandingkan saat bus yang saya tumpangi menerjang perlintasan rel kereta api. Ini adalah kejadian yang paling mencekam selama saya naik angkutan umum.
Saat itu bus yang saya tumpangi melewati perlintasan kereta api. Sinyal peringatan sudah berbunyi dan palang pintu perlintasan sudah turun. Tapi dengan nekat kernet bus membuka palang pintu perlintasan dan bus pun menyeberang rel kereta tersebut. Saya yang tidak menyangka akan kejadian seperti itu cuma bisa panik ingin turun. Tapi tak bisa dan akhirnya cuma jengkel dan marah pada bus ini. Dan meski tidak terjadi apa-apa, saya jadi males naik bus jalur tersebut selama beberapa waktu.
Selain bus-bus yang beroperasi di wilayah kota, semasa kuliah saya masih sempat mendapati bus angkutan umum yang menjangkau ke pedesaan. Meski frekuensinya mulai jarang, tapi pada jam-jam tertentu saja seperti jam berangkat sekolah atau pulang sekolah bus ini masih lewat. Lama-lama bus ini berhenti beroperasi. Mungkin karena penumpangnya semakin sedikit. Padahal angkutan ini sangat bermanfaat untuk penghubung dari daerah kabupaten ke pusat kota.
Itu sedikit cerita naik angkutan umum di Jogja beberapa waku lalu. Kini jaman sudah berganti. Belasan jalur bus yang dulu ada kini hanya tinggal beberapa saja. Saya sendiri kalau kemana-mana masih naik motor.
Memilih motor dibanding dengan angkutan umum karena lebih cepat dan efisien. Ada banyak alternatif jalan bila mana terjadi kemacetan. Dan pengalaman-pengalaman yang kurang mengenakkan naik bus umum di atas membuat saya enggan untuk naik angkutan umum lagi. Kalau bus nya seperti Trans Jogja mungkin masih bisa dipertimbangkan. Tapi sayangnya belum ada angkutan seperti bus Trans yang haltenya dekat dari rumah saya.
![]() |
sumber gambar : wikipedia bahasa Indonesia |
Dulu waktu sma saya sering naik kol kuning...
ReplyDeleteKol kuning ..sepertinya pernah naik juga, he.
Delete